Kasus Reinfeksi Corona Kembali Terjadi Tanda Antibodi Tak Bertahan Lama

Kasus Reinfeksi Corona Kembali Terjadi Tanda Antibodi Tak Bertahan Lama

Kasus Reinfeksi Corona Kembali Terjadi Tanda Antibodi Tak Bertahan Lama

Kasus Reinfeksi Corona Kembali Terjadi Tanda Antibodi Tak Bertahan Lama – Kasus reinfeksi virus Corona kembali laporkan, dan kali ini terjadi daerah Seattle, negara bagian Washington, Amerika Serikat. Para peneliti mengatakan reinfeksi ini alami seorang penghuni panti jompo.
Pasien dari panti jompo yang tidak mau menyebutkan namanya ini berusia 60 tahun, yang sebelumnya rawat selama empat bulan rumah sakit karena terinfeksi COVID-19. Tetapi, saat terinfeksi kedua kalinya ini ia hanya mengalami gejala yang ringan.

“Sebagian besar kasus lebih ringan untuk kedua kalinya,” kata Dr Jason Goldman yang merupakan kepala Tim Riset COVID-19 Swedish Medical Center, Seattle yang mengutip dari https://orionhotelcrete.com/  Jumat (2/10/2020).

“Bahkan jika sistem kekebalan tubuh gagal untuk mencegah infeksi kedua ini, tetapi itu membatasi tingkat keparahan untuk kedua kalinya akibat virus Corona tersebut,” lanjutnya.

Sebelumnya, kasus reinfeksi yang pertama kali dialami pria berusia 35 tahun Hong Kong dan pria lain berusia 25 tahun Reno, Nevada.

Antibodi Corona Tak Manjur

“Kebanyakan kasus memiliki jarak empat bulan atau lebih dari infeksi pertama sampai yang kedua. maka, itu mungkin merupakan titik perubahan, kekebalan tubuh mulai berkurang,” jelas Dr Goldman.

Dr Goldman juga mengatakan sampai saat ini para peneliti masih terus mencoba untuk mempelajari dan memahami. Terkait berapa lamanya antibodi virus Corona bisa bertahan. Hal ini berguna untuk menjaga tubuh dari virus tersebut.

“Kami masih harus belajar tentang virus ini dan (jumlah) kekebalan yang kami butuhkan untuk melindungi badan dari virus ini,” lanjutnya.

Pada kasus Nevada, pasien adalah seorang pria berusia 25 tahun. Ia juga pertama kali terdeteksi positif terinfeksi COVID-19 bulan April dengan gejala ringan.

Setelah sembuh, sang pasien ternyata kembali jatuh sakit pada akhir bulan Mei. Peneliti yang melakukan pemeriksaan menemukan ia kembali terinfeksi oleh virus Corona dari jenis atau strain yang berbeda.

Hal yang membedakan pasien Hong Kong dengan pasien Nevada adalah tingkat keparahan infeksi kedua. Pasien Hong Kong laporkan tidak mengalami gejala, kemungkinan karena reaksi imunitas yang lebih baik. Sementara pasien Nevada justru mengalami gejala lebih parah.

“Studi ini kemungkinan menggambarkan dengan jelas contoh kasus reinfeksi… reinfeksi mungkin terjadi, hal yang sudah kita tahu.  Karena imunitas tidak pernah bisa mencapai seratus persen,” kata ahli imunologi Kristian Anderson dari Scripps Research.

“Kami masih belum tahu seberapa sering reinfeksi dan bagaimana hal ini mungkin akan berubah masa depan,” pungkasnya seperti Melansir dari Reuters dan http://tarrantcountyaggies.org/ . Sabtu (29/8/2020).